Lajuroda.com, Jakarta – Adira Finance mencatatkan kinerja positif sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (9M26), meskipun kondisi ekonomi global dan daya beli masyarakat masih menghadapi tekanan. Perusahaan membukukan pembiayaan baru sebesar Rp35,1 triliun atau tumbuh 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih meningkat 56% menjadi Rp1,6 triliun.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan tren positif industri otomotif nasional. Berdasarkan data sepanjang Januari–September 2026, penjualan ritel sepeda motor baru mencapai 5,1 juta unit, meningkat 10% secara tahunan (year-on-year/yoy). Adapun penjualan ritel mobil baru tumbuh 16% menjadi 676 ribu unit.
Pertumbuhan industri otomotif berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat konflik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dan inflasi. Di dalam negeri, konsumsi rumah tangga masih terjaga berkat stimulus fiskal dan program prioritas pemerintah. Namun, tekanan daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah, serta risiko pelemahan rupiah masih menjadi tantangan.
Pembiayaan Adira Finance Tumbuh 13%
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, Adira Finance berhasil meningkatkan pembiayaan baru menjadi Rp35,1 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan pembiayaan di seluruh segmen, baik otomotif maupun nonotomotif.
Hingga akhir September 2026, piutang pembiayaan yang dikelola perusahaan mencapai Rp65,8 triliun, meningkat 7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk mendukung ekspansi bisnis, Adira Finance juga mengoptimalkan jaringan layanan yang kini mencapai 847 kantor cabang dan kantor satelit di seluruh Indonesia.
Selain pertumbuhan bisnis, perusahaan melanjutkan integrasi operasional setelah merger dengan Mandala Finance. Pada Oktober 2026, integrasi memasuki tahap Operational Day 1 (OD1), yang menandai penyatuan operasional kedua perusahaan.
Langkah ini diharapkan dapat mengoptimalkan jaringan usaha, meningkatkan kapabilitas bisnis dan kualitas layanan, sekaligus membuka peluang pertumbuhan pembiayaan yang lebih luas.
Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila, mengatakan perusahaan akan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas pembiayaan di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
Menurutnya, integrasi operasional pascamerger menjadi momentum penting untuk meningkatkan produktivitas jaringan, mengoptimalkan sinergi dengan Bank Danamon dan MUFG Group, serta memperkuat daya saing perusahaan.
Laba Bersih Naik 56%, NPF Membaik
Dari sisi keuangan, Adira Finance membukukan total pendapatan sebesar Rp9,8 triliun sepanjang Januari–September 2026, tumbuh 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, total beban perusahaan relatif stabil di kisaran Rp7,6 triliun. Kinerja tersebut didukung oleh penurunan beban bunga sebesar 14% dan beban penyisihan kerugian penurunan nilai sebesar 10% secara tahunan.
Kombinasi pertumbuhan pendapatan dan pengendalian beban tersebut mendorong laba bersih Adira Finance meningkat 56% menjadi Rp1,6 triliun.
Tidak hanya dari sisi profitabilitas, kualitas pembiayaan perusahaan juga menunjukkan perbaikan. Rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) gross konsolidasian tercatat sebesar 1,8% pada September 2026, lebih baik dibandingkan 2,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Untuk mempertahankan kualitas aset, perusahaan terus menerapkan prinsip kehati-hatian melalui proses underwriting yang prudent, serta memperkuat aktivitas pemantauan dan penagihan pembiayaan.
Direktur Keuangan Adira Finance, Sylvanus Gani Mendrofa, menyampaikan bahwa perusahaan akan mempertahankan profitabilitas melalui pertumbuhan pembiayaan yang sehat, diversifikasi sumber pendanaan, dan peningkatan efisiensi operasional.
Di tengah dinamika suku bunga dan tekanan daya beli masyarakat, Adira Finance juga akan terus mencermati perkembangan pasar serta menyesuaikan strategi bisnis secara terukur.
Melalui strategi tersebut, perusahaan menargetkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan sekaligus menjaga kualitas pembiayaan dan profitabilitas di tengah tantangan ekonomi.













